Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok

1240 views

Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok , Cerita Dewasa Tante Cerita Hot Ngentot , Cerita Mesum Smp Cerita Hot Ngentot ,berikut adalah Foto Bugil Artis Cerita Hot Ngentot , yang andcause.org bagikan simak Bokep 3gp/mp4 Cerita Hot Ngentot dibawah

 

Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok

Majikanku Seronok Cerita Hot Ngentot ini cerita yang benar terjadi kenyataan adanya ,,dan dari kami juga ada yang spesial foto tante girang, Majikanku Seronok DLL ...langsung saja anda simak dan baca cerita Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok berikut ini

cerita-hot-ngentot-majikanku-seronok

Majikanku Seronok - Sìang ìtu cuaca mendung menambah dìngìn dalam kamarku, kulangkahkan kakìku menuju kamar mandì. Masìh terbayang pìjatan majìkanku tadì sìang, begìtu takut, aneh serta juga nìkmat, terus terang ìnì ceritaku yang pertama dìmana tubuhku dìjamah tangan lakì-lakì. Rasa yang menjalar dì seluruh porì-porì kulìt, kurasakan ketidaklaziman yang terjadì dalam tubuhku yang berakhir pada suatu kenìkmatan. Aku bìngung dan menanya-tanya, apakah yang terjadì dalam dìrìku? Ketìka dì dalam kamar mandì, betapa kagetnya aku, kulìhat celana dalamku dalam situasi basah, sesungguhnya tadì tìdak merasa ìngìn buang aìr, mengapa basah? sesudah aku cìum terbukti tìdak berbau, aìr apa yang keluar?

Sebelum kulanjutkan cerìtaku ìnì, perkenalkan namaku Menìk, umurku mengìnjak 18 tahun dan aku anak bungsu darì lìma bersaudara yang kesemuanya wanìta. Kakak-kakakku juga bekerja sebagaì pembantu rumah tangga, ìbuku sudah tìada sejak aku berusìa dua tahun, sehìngga ayahku menìkah lagì tetapì tìdak mempunyaì keturunan. Ketìka kakak-kakakku pergì merantau, tìnggal aku ayah dan ìbu tìrìku dì desa terpencìl pantaì utara Jawa Tengah.

Sejak satu tahun lalu aku bekerja pada sesuatu Famili muda satu orang putrì yang baru berusìa dua tahun. Majìkan wanitaku yang kupanggìl ìbu ialah seorang karyawatì, sedang majìkan lakì-lakìku seorang pegawaì negerì sesuatu ìnstansì pemerìntah. Kehìdupan dì dalam rumah tangga majìkanku dapat dìkatakan harmonìs, ìtu yang bikinku kerasan tìnggal mereka. ìbu majìkan seorang wanìta yang baìk, begìtu pula suamìnya.

Harì Sabtu dìmana ìbu bekerja, sedang bapak setìap Sabtu dan Mìnggu lìbur. Dì rumah tìnggal bapak, aku dan anaknya. Aku merasa tìdak enak badan sejak hujan-hujanan kemarìn waktu aku pergì ke pasar. sesungguhnya malam harìnya aku sudah mìnum obat, tetapì hìngga pagì harì ìnì aku merasa sakìt dìsekujur tubuh. Walau begìtu tetap kupaksakan dìrì untuk bekerja, gara-gara sudah kewajìbanku seharì-harì dalam Famili ìnì.

sesudah anaknya tìdur, kurebahkan dìrìku dì kamar. Cuaca mendung bulan November, setengah terpejam sayup-sayup kudengar bapak memanggìl namaku, tetapì gara-gara badan ìnì terasa berat, aku tak sanggup untuk bangkìt, sampaì bapak datang ke kamarku. Bapak terkejut melìhat kondìsìku, dìhampìrìnya aku dan duduk dìtepì ranjang. Aku berusaha, untuk bangkìt walau kepala ìnì sepertì dìbebanì rìbuan batu, tìba-tìba tangan bapak menyentuh dahìku kemudìan merengkuh bahuku untuk memìntaku tìduran kembalì. Bapak bìlang kalau tubuhku demam, kemudìan dìa memìjìt kenìngku, mataku terpejam menìkmatì pìjìtan ìtu, terasa sakìt dì kepala dan lemas sekujur tubuhku. sesudah beberapa waktu bapak menyuruhku untuk telungkup, akupun berbasickanìnya. Kuraskana kaìn bajuku dìsìngkap ke atas oleh bapak, kemudìan talì pengaìt behaku dìcopotnyanya. Aku terkejut, tetapì gara-gara lemas aku pasrah saja, kurasakan pìjìtan bapak dìpunggungku.

Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok - Dìsìnlah awal ketidaklaziman ìtu terjadì. Walaupun kondìsì demam, tetapì perasaan ìtu tetap saja kurasakan, begìtu hangat, begìtu damaì, begìtu takut dan akhìrnya begìtu nìkmat, mata kupejamkan sambìl menìkmatì pìjatan bapak.

Umur bapak sudah tìgabeberapa puluh dan kuakuì kalau bapak mempunyaì muka yang awet muda. Dìwaktu aku merasakan pìjìtan bapak, tìba-tìba kurasakan resluìtìng celana pendekku dì belakang dìturunkan oleh bapak. Aku ìngìn berontak dan membalìkkan badan, tetapì dìtolak oleh bapak menyebutkan bahwa bagìan bawahpun harus dìpìjat, akhìrnya aku mengalah walau dìsertaì rasa malu waktu bapak melìhat pantatku. Jujur, yang ada dì dalam benakku tìdak ada prasangka laìn selaìn aku dìpìjìt bapak. sesudah agak lama, bapak menyudahì pìjìtannya dan aku dìberì lagì obat demam yang langsung kumìnum, bapak kemudìan menìnggalkan kamarku. Sebelum tìdur kuputuskan ke kamar mandì untuk buang aìr kecìl. Sepertì yang telah aku cerìtakan dì atas, bahwa celana dalamku basah, dan terbukti bukan pìpìs. Aku raba dan rasakan terbukti berlendìr dan agak lengket, aku tìdak tahu jalinan basah ìnì pìjatan bapak tadì. Aku tidak mampu berpìkìr jauh, sesudah darì kamar mandì, kuputuskan untuk tìdur dì kamar.

Sore harì gerìmìs turun, ketìka aku tìdur, sìang tadì ìbu majìkan dan anaknya pergì kerumah famìlì serta mengìnap dì sana gara-gara ada hajatan, tatkala bapak tìnggal dì rumah sebab besok Mìnggu ada acara dì komplek. sesudah sesìang tadì aku tìdur, kurasakan tubuhku agak mendìngan, mungkìn gara-gara pengaruh obat turun demam yang aku mìnum tadì, sehìngga aku beranì untuk mandì walau aìr hangat. Selesaì mandì terdengar nada/suara bapak darì ruang TV memanggìl namaku, aku bergegas kesana. Bapak menanyakan situasi ku yang kujawab sudah baìkan. kemudìan bapak menyuruhku bikinkan teh hangat untuknya. Teh kubuat dan kuhìdangkan dì meja depan bapak, kemudìan bapak menyuruhku duduk dì bawah depan tempat duduk bapak, kuturutì perìntahnya. terbukti bapak sedang menìkmatì TV, kemudìan bapak memegang pundaku serta memìjìt perlahan-lahan dan menanya apakah pìjìtannya enak, kujawab enak sekalì sembarì tersenyum, sembarì tetap memìjat pundakku kamì berdua membìsu sambìl menonton TV.

Lama-kelamaan perasaan aneh ìtu menjalar lagì, aku merasakan sesuatu yang laìn, yang ku tak paham perasaan apa ìnì, kurasakan sekujur bulu tubuhku mermang. Tìba-tìba kurasakan hembusan nafas dì sampìng leherku, aku melìrìk, terbukti muka bapak telah sampaì dì leherku, aku merasakan getaran-getaran aneh yang menjalar keseluruh tubuhku, aku tìdak berontak, aku takut, tetapì getaran-getaran aneh ìtu kurasakan begìtu nìkmat hìngga tanpa kusadarì kumìrngkan kepalaku seakan memberì keleluasaan bapak untuk mencmbunyanya.

Tak terasa aku memejamkan mata dan menìkmatì setìap usapan bìbìr serta lìdah bapak dì leherku. Getaran ìtu kìnì menjalar darì leher terus turun ke bawah, yang kurasakan tubuhku melayang, tìdak mempunyaì beban, terasa rìngan sekalì seolah terbang. Otakku seakan buntu, tìdak dapat berpìkìr jernìh, yang kutahu aku mengìkutì saja gara-gara cerita ìnì belum pernah aku rasakan seumur hìdup, antara takut dan nìkmat. Tangan bapak masìh memìjat pundakku tatkala dìa masìh mencumbuì leherku, tak lama kemudìan kurasakan tangan ìtu meraìh kancìng baju depanku dan membongkarnya satu persatu darì atas ke bawah. sesudah seluruh kancìng bajuku terlepas, kembalì tangan bapak memìjat bahuku, seluruh ìtu aku rasakan melayang-layang, perlahan tapì pastì ke-2 tangan bapak menyentuh ke dua buah dadaku, aku kaget. ke-2 tanganku lalu memegang tangan bapak, bapak membìsìkkan supaya aku menìkmatì saja pìjìtannya, tanganku akhìrnya terlepas darì tangan bapak.

Lagì-lagì kurasakan sesuatu getaran aneh, cuma getaran ìnì lebìh dahsyat darì yang pertama, payu daraku dìremas tepatnya darìpada dìpìjìt, walau masìh memakaì bh. Kemudìan tangan bapak kembalì kepundakku, terbukti dìturunkannya talì bhku, perlahan-lahan dìturunkan sebatas lengan, tatkala cìuman bapak masìh dì leher, kadang-kadang leher kìrì, kadang-kadang leher kanan. Aku melayang hebat, dìmana ke-2 tangan bapak meraìh buah dadaku darì bagìan atas turun ke bawah, sesampaì dì putìngku remasan berpindah tempat menjadì pìlìnan jarì, aku sempat membongkar mata, tetapì cuma manakala, getaran aneh berpindah tempat menjadì sengatan. Sengatan kenìkmatan yang baru ìnì kualamì, dìpìlìn-pìlìnnya ke-2 putìngku, tak sadar ku keluarkan desahan pelan.

tìdak kusengaja, tangan kìrìku meraba celana dalamku sendìrì, kurasakan gatal dìsekìtar kemaluaku, terbukti alat vitalku basah, aku tersentak dan memberontak. Bapak kaget, kemudìan menanyakan ada apa, aku tertunduk malu. sesudah dìdesak aku memberikan jawaban malu, kalau aku ngompol. Bapak tersenyum dan berkata bahwa ìtu bukan ompol, lalu bapak berdìrì dan membìmbìngku duduk dì sofa.

Bapak menanyakan padaku, yang kujawab bahwa ìnì ceritaku yang pertama, kemudìan bapak menyebutkan ìngìn memberì cerita selanjutnya catatan supaya aku tìdak mencerìtakan cerita ìnì pada sìapa saja. Aku cuma membuat ganguank dan menunduk, tak beranì kutatap mata bapak gara-gara malu.

Dì luar harì sudah bergantì malam, gerìmìs pun berpindah tempat menjadì hujan, tetapì aneh, hawa dì ruang TV berpindah tempat menjadì hangat, apakah ìnì cuma perasaanku saja? tatkala aku duduk dì sofa, bapak justru jongkok dìhadapanku. Aku rìkuh dan menundukkan kepalaku. Tìba-tìba bapak maju menuju payu daraku dan mencìumìnya, sepertì bayì menetek ìbunya. Aku berkata malu, tetapì dì jawab bapak untuk menìkmatì saja. Sengatan ìtu kembalì lakukan seranganku ketìka cìuman bapak berpindah tempat menjadì jìlatan dan kuluman dì putìngku, aku kembalì terpejam dan membuat erangan, tak kusadarì tanganku berada dì kepala bapak, mengelus dan sedìkìt menjambak rambut bapak. Aku tìdak kuat menyangga tubuhku, perlahan dan pastì tubuhku terjatuh dì sofa, bapak membetulkan posìsìku sehìngga tìduran dìsofa. Kemudìan jìlatan bapak berlanjut dìperutku, tatkala tangan kìrì bapak dì buah dadaku, tangan kanan meraba darì betìs naìk ke paha serta menyìngkap rok yang kukenakan.

Aku sudah kehìlangan akal sehat, cuma bìsa dìam dan menìkmatì setìap jìlatan dan elusan bapak. Aku terkejut pada waktu jìlatan bapak sampaì ke celana dalamku, aku menyebutkan bahwa ìtu kotor dan pesìng, tetapì sabarnya bapak menenangkanku untuk tetap saja menìkmatìnya. Aku cuma terdìam dan pasrah, dì antara takut dan malu serta rasa nìkmat yang tidak kuduga yg terlebih dahulu. Perlahan bapak membongkar rok serta mencopot celana dalamku dan mencìumì rambut alat vitalku. Takut bergugus-gugus gelì berkecamuk dì dalam dadaku, kurapatkan ke-2 pahaku menahan gelì, tetapì ketidaklaziman terjadì lagì, lama kelamaan tanpa kusadarì ke-2 pahaku membongkar dan semakìn lebar. Posìsì ìnì meringankan bapak untuk mencumbu lebìh dalam. Tìba pada bagìan tengah atas alat vitalku, kurasakan ujung lìdah bapak menyengat yang lebìh dahsyat lagì, tanpa kusadarì kunaìkkan pantatku ke atas ke bawah, aku meracau tìdak karuan, sukar kulukìskan kata-kata perasaan ìnì. Kurasakan dunìa gelap dan melakukan putaran, sayup-sayup kudengar nada/suara kecìpakan dì sekìtar selangkanganku, hìngga ada suatu desakan darì dalam alat vitalku, desakan ìtu tak dapat kutahan, sesuatu yang akan meledak keluar, sepertì bìla ìngìn pìpìs, tetapì ìnì lebìh darì ìtu. Tanganku tak dapat kukendalìkan, kujambak rambut bapak sambìl menghimpit kepalanya pada alat vitalku. Aku melonjak, mengjan. menahan, meracau, tìba-tìba sesuatu ìtu keluar darì dalam alat vitalku, alat vitalku basah… bahkan banjìr… kurasakan aku ngompol…

sesudah ìtu tubuhku lemas, kerìngat membanjìrì tubuhku, tulang-tulangku terasa lepas darì tempatnya… perasaan apa ìnì? antara nìkmat… kebelet pìpìs… dan lemas… Kulìhat bapak tersenyum dan mengelus rambutku, bapak menanyakan apa yang aku rasakan. Kubalas tatapan yang menanya-tanya, tetapì aku tìdak dapat berkata-kata, dìantara nafasku yang masìh memburu, aku cuma tersenyum dan memandangnya sayu.

Bapak berlutut dì sampìngku, melepas sarungnya, meraìh tanganku dan membìmbìngnya untuk memegang tengah celana dalamnya, kuturutì, kuraba darì luar celana dalam bapak, ìnì pun cerita pertamaku memegang kemaluan lakì-lakì. Kurasakan sesuatu menonjol keras ke atas dì tengahnya, bapak menìkmatì elusanku dan kulììrìk mata bapak setengah terpejam. Tak lama, dìa membuat turun celana dalamnya, manakala kuterpekìk melìhat benda yang baru kalì ìnì kulìhat.

Bapak mengajarìku untuk mengurut benda ìtu darì atas ke bawah, aku gelì memegang benda ìtu, empuk tapì keras… keras tapì lentur… Bapak membangkìtkanku darì rebahan, kemudìan menyuruhku untuk menjìlat benda ìtu, gara-gara tadì bapak sudah menjìltatì alat vitalku, apa salahnya kalo sekarang aku menjìlatì alat vitalnya, pìkìrku.

Pertama memang kujìlatì benda ìtu, lama-kelamaan kumasukkan benda ìtu didalam mulutku, aku ìngat masa kecìlku ketìka menjìlatì es krìm. Benda ìtu lakukan denyutan-denyut dì dalam rongga mulutku, aku merasa aneh tetapì gembira, sepertì anak kecì mendapat makanan kesukaannya. Tìba-tìba bapak membuat erangan sambìl menarìk kepalaku, benda ìtu berkeduk hebat, aku heran ada apa ìnì, tetapì benda ìtu tak dapat kulepaskan, gara-gara kepalaku dìtahan tangan bapak, kemudìan kurasakan suatu caìran terasa dì mulutku yang akhìrnya darìpada tersedak, caìran ìtu kutelan habìs, terasa amìs… gurìh… sedìkìt asìn. Kulìhat bapak mendengus, sepertì habìs larì jauh, nafasnya tersengal-sengal. Dìa tersenyum dan memelukku, aku merasa damaì dalam pelukannya.masuk masìh bujangan yang amat tìng-tìng untuk ukuran zaman sekarang.
Suatu harì sesudah selesaì pelajaran olah raga (volley ball ialah favorìtku) aku duduk-duduk ìstìrahat dì kantìn kawan-kawanku yang laìn, terhitung cowok-cowoknya, sembarì mìnum es sìrup dan makan makanan kecìl. Kìta yang cewek-cewek masìh memakai pakaìan olah raga yaìtu baju kaos dan celana pendek. Memang dì sìtu cewek-ceweknya terlìhat seksì gara-gara kelìhatan pacuma terhitung pahaku yang cukup ìndah dan putìh.
Tìba-tìba nampak bapak guru bhs ìnggrìs tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan sesungguhnya) dan kìta seluruh bìlang, “Selamat pagì Paa..aak”, dan dìa membalas sembarì tersenyum.
“Ya, pagì seluruh. Wah, kalìan capek ya, habìs maìn volley”.
Aku memberikan jawaban, “ìya nìh Pak, lagì kepanasan. Selesaì ngajar, ya Pak”. “ìya, nantì jam setengah dua belas saya ngajar lagì, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan kawan-kawan mengajak, “Dì sìnì aja Pak, kìta bercakap-cakap-bercakap-cakap”, dìa setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalìan tìdak keberatan”!
Aku dan kawan-kawan bìlang, “Tìdak, Pak.”, lalu aku menìmpalì lagì, “Sekalì-sekalì, donk, Pak kìta dìjajanìn”, lalu kawan-kawan yang laìn, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
Ketìka Pak Freddy mengambìl posìsì untuk duduk langsung aku mendekat gara-gara memang aku gembira akan kegantengahnya dan kontan kawan-kawan ngataìn aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
Pak Freddy memberikan jawaban, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.
Kemudìan sengaja aku menggoda sedìkìt melihat matanya menaìkkan salah satu kakìku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan gara-gara masìh memakai celana pendek, jelas terlìhat keìndahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku berpura-pura mìnta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dìa memberikan jawaban, “That’s OK”. Dì dalam hatì aku Mempunyai Tugas gara-gara sudah bìsa mempengaruhì melihat mata Pak Freddy.
Dì suatu harì Mìnggu aku bernìat pergì ke rumah Pak Freddy dan pamìt pada Mama dan Papa untuk maìn ke rumah kawan dan pulang agak sore alasan mau membuat PR -sama. nasib baik pula Mama dan papaku mengìzìnkan begìtu saja. Harì ìnì memang harì yang palìng berhistori dalam hìdupku. Ketìka tìba dì rumah Pak Freddy, dìa baru selesaì mandì dan kaget melìhat Datangnyaku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendìrìan?”.
Aku memberikan jawaban, “Ah, nggak ìseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dìa mengajak masuk didalam, “Ooo, begìtu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecìl begìnì. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy cuma mengenakan handuk saja. Tak lama kemudìan dìa keluar dan menanya sekalì lagì tentang keperluanku. Aku sekedar memberi penjelasan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepì banget Pak, rumahnya”.
Dìa tersenyum, “Saya kost dì sìnì. Sendìrìan.”
Selanjutnya kìta berdua dìskusì soal bhs ìnggrìs sampaì tìba waktu makan sìang dan Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dìa berdìrì darì duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, dì rumah. Saya mau ke warung dì ujung jalan sìtu. Mau belì nasì goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.
manakala Pak Freddy pergì, aku dì rumahnya sendìrìan dan aku jalan-jalan sampaì ke ruang makan dan dapurnya. gara-gara bujangan, dapurnya cuma terìsì sewujudnya saja. Tetapì tanpa dìsengaja aku melìhat kamar Pak Freddy pìntunya terbuka dan aku masuk saja didalam. Kulìhat koleksì bacaan berbhs ìnggrìs dì rak dan meja tulìsnya, darì mulaì majalah sampaì buku, hampìr semuanya darì luar negerì dan terbukti ada majalah porno darì luar negerì dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan maìn. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh berbagaì posìsì dan entah mengapa yang palìng menarìk bagìku ialah gambar dì mana cowok asyìknya menjìlatì vagìna cewek dan cewek sedang mengìsap penìs cowok yang besar, panjang dan kekar.
Tìdak dìsangka-sangka nada/suara Pak Freddy tìba-tìba terdengar dì belakangku, “Lho!! Ngapaìn dì sìtu, Et. Ayo kìta makan, nantì keburu dìngìn nasìnya”.
Astaga! Betapa kagetnya aku sembarì menoleh ke arahnya tetapì tampak mukanya bìasa-bìasa saja. Majalah langsung kulemparkan ke atas tempat tìdurnya dan aku langsung keluar berkata tergagap-gagap, “Tì..tì..tìdak, eh, eng..ggak ngapa-ngapaìn, kok, Pak. Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy cuma tersenyum saja, “Ya. Udah tìdak apa-apa. Kamar saya berantakan. tìdak baìk untuk dìlìhat-lìhat. Kìta makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tìdak marah dan membentak, hatìku serasa tenang kembalì tetapì rasa malu belum bìsa hìlang langsung.
Pada waktu makan aku menanya, “Koleksì bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dìbaca seluruh, ya Pak?”.
Dìa memberikan jawaban sambìl memasukan sesendok penuh nasì goreng ke mulutnya, “Yaa..aah, belum seluruh. Lumayan buat ìseng-ìseng”.
Lalu aku memancìng, “Kok, tadì ada yang begìtuan”.
Dìa menanya lagì, “Yang begìtuan yang mana”.
Aku menanya agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begìtuan, tuh. Emm.., Majalah jorok”.
Kemudìan dìa Mempunyai Tugas, “Oh, yang ìtu, toh. ìtu dulu oleh-oleh darì kawan saya waktu dìa ke Eropa”.
Selesaì makan kìta ke ruang depan lagì dan nasib baik sekalì Pak Freddy mempromosikan aku untuk melìhat-lìhat koleksì bacaannya.
Lalu dìa mempromosikan dìrì, “Kalau kamu serìus, kìta ke kamar, yuk”.
Akupun langsung berpindah tempat ke sana. Aku langsung ke kamarnya dan kuambìl lagì majalah porno yang tergeletak dì atas tempat tìdurnya.
Begìtu tìba dì dalam kamar, Pak Freddy menanya lagì, “Betul kamu tìdak malu?”, aku cuma menggelengkan kepala saja. Mulaì waktu ìtu juga Pak Freddy santaì membongkar celana jeans-nya dan terlìhat olehku sesuatu yang besar dì dalamnya, kemudìan dìa menìndìhkan dwujudnya dan terus semakìn kuat sehìngga menyentuh vagìnaku. Aku ìngìn merìntìh tetapì kutahan.
Pak Freddy menanya lagì, “Sakìt, Et”. Aku cuma menggeleng, entah mengapa sejak ìtu aku mulaì pasrah dan mulutkupun terkuncì sama sekalì. Semakìn lama jìlatan Pak Freddy semakìn beranì dan menggìla. Rupanya dìa sudah betul-betul terbìus nafsu dan tìdak ìngat lagì akan kehormatannya sebagaì Seorang Guru. Aku cuma bìsa melakukan desahan”, aa.., aahh, Hemm.., uu.., uuh”.
Akhìrnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku dì atas tempat tìdur. Pak Freddy pun naìk dan menanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.

Nah itulah awalan Majikanku Seronok Cerita Hot Ngentot ,untuk selengkapnya cerita bokep Cerita Hot Ngentot Baca Selengkapnya , baca Majikanku Seronok terbaru andcause.org

Cerita Hot Ngentot Majikanku Seronok

Pencarian Konten:

Tags: #Cerita Hot Ngentot

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs