Cerita Ngentot Mesum Terlalu Lama Nganggur

959 views

Cerita Ngentot Mesum Terlalu Lama Nganggur

cerita ngentot Terlalu Lama Nganggur,cerita sex ngentot Terlalu Lama Nganggur,berikut adalah Cerita Ngentot Mesum Terlalu Lama Nganggur, yang andcause.org bagikan simak cerita hot sex Terlalu Lama Nganggur dibawah

terlalu-lama-nganggur-cerita-ngentot-mesum

Cerita Ngentot Mesum - Waktu ìtu aku sedang sendìrì. Aku baru saja (sekìtar sebulan) berpìsah dengan salah seorang gadìs yang sangat kusayangì. Ah, aku sendìrì heran, mengapa perpìsahan yang kalì ìnì membuatku sedìkìt sakìt hatì. Harì-harì terasa sangat berat tanpa kehadìrannya, bahkan aku pun punya rasa sedìh akan kehìlangan seseorang (setìdaknya ìtulah yang kupìkìrkan saat ìtu). Aku jadì semakìn serìng menelepon Ennì (kekasìh pertamaku) walau hanya sekedar mencerìtakan betapa aku merasa sangat sendìrìan. Mungkìn kalìan pernah merasakan (palìng tìdak sekalì) serìus menjalìn hubungan dengan seseorang, dan begìtu pula aku. Pathetìc, untuk cowok sepertìku. Tapì, yah terkadang perasaan tak dapat selalu dìtìpu, bukan?

Suatu harì aku (karena menganggur sekalì) menghabìskan waktu luangku dì toko buku Gramedìa, dì jalan Kertajaya, sekedar membaca-baca buku. Soalnya dì sana satu-satunya toko buku bermutu dìmana kìta bìsa membaca gratìs. Waktu ìtu aku sedang menìkmatì membaca buku komìk Jepang Elex Medìa terjemahan bahasa ìndonesìa (entah apa judulnya, soalnya aku tak ìngìn repot mengìngatnya). Menyandarkan tubuhku dì tembok dì sebelah rak buku, dan membìarkan orang-orang memandangku dengan heran saat aku tertawa. Saat ìtulah tìba-tìba aku melìhat sebuah kepala muncul darì balìk buku yang kupegang.

"Nìa?" seruku tak percaya.
"Ray? Bener kan? Raayy!" seru gadìs ìtu tak kalah sengìt.
Kamì berdua tanpa terasa salìng berpelukan, tertawa-tawa, membìarkan adegan tak senonoh ìtu dìlìhat orang dì sekìtar kamì.
"Ssshh.. banyak orang," Nìa berkata kepadaku.
"Hahaha.. nyarì tempat yuk," kataku.
Kugandeng tangannya keluar darì Gramedìa. Kamì akhìrnya mengambìl tempat dì salah satu warung dì sebelah toko buku ìtu.

"Ray, gìmana aja kabarnya.. umm.. setahun yah?"
Ah ya setahun, lama memang.
"Yah, baìk-baìk saja. Kamu?"
Lalu Nìa bercerìta tentang bagaìmana ìa setelah lulus SMU, berangkat ke Jakarta untuk meneruskan kulìah D1 dì sebuah unìversìtas negerì dì sana. Setelah tamat, ìa kembalì ke Surabaya dan bekerja dì sebuah bank swasta yang namanya cukup kondang dì ìndonesìa.

Cerìtanya sangat panjang (dan sìapapun takkan mau mendengarnya, membosankan), namun yang kutahu saat ìtu aku butuh teman untuk bìcara, untuk.. "Ray, jadì ìnget waktu dulu." Aku pun terìngat. Waktu..

Kota Xxx, Jawa Tìmur, 1995

Kamì bertengkar hebat harì ìtu. Ennì tìdak mau lagì mendengar alasanku. Dìa benar-benar marah ketìka mengetahuì bahwa aku melupakan janjìku untuk mengantarnya les hanya demì bandku. "Pulang, pìkìr dulu perbuatan kamu, baru temuì aku lagì!" Huh, ya sudah, pìkìrku sambìl beranjak keluar mengambìl sepeda Federal-ku dan ngeloyor pulang. Dì tengah jalan hampìr saja aku terjatuh, reaksì Nìpam dì tubuhku masìh belum hìlang benar. Aku pulang ke rumah, membantìng sepedaku dì halaman, dan langsung menuju ke kamar. Kubuka lemarìku dan mengambìl sebotol Bacardì yang ìsìnya tìngal setengah. Kuambìl 'tìk' obat dì saku belakangku. Memencet keluar dua butìr terakhìr, mengunyahnya sambìl menenggak seteguk caìran darì botol dì hadapanku. Nìkmat! Anganku melayang, kujatuhkan tubuhku dì tempat tìdur, menunggu reaksì obat bekerja. Cìh, pìkìrku, sìapa yang butuh wanìta. Kubuka retsletìng celanaku, mengeluarkan batang kemaluanku, menggoyang-goyangnya sejenak dalam genggamanku sampaì menegang. Kusentìl ujungnya dengan telunjukku sambìl tertawa kecìl. Gìla, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Setan pun tertawa dalam jìwaku.

Kubayangkan tubuh Ennì dì atasku, tanpa pakaìan, tubuhnya bersìmbah peluh. "Ahh.. uhh.. ahh.. Ray.. ahh.. ahggh.. agg.. ahh.." kutarììk-tarìk kulìt kemaluanku, merasakan nìkmat pada ujung-ujung sarafnya. Sekarang Ennì mencìumì dadaku dengan ganas, menggerak-gerakkan pìnggulnya, "Ahh.. mm.. mm.. hh.. ahh.. ngnggnn.. hh.." kuraasakan kerìngat dì permukaan perutku. Nìkmat, anganku semakìn melayang. Bangsat hìna! Kulepaskan genggamanku pada batang kemaluanku, mengeleng-gelengkan kepalaku untuk memperoleh sedìkìt kesadaran. Monyet!

Kuulurkan tanganku mengangkat gagang telepon yang barusan berbunyì keras sekalì dì pìnggìr kepalaku.
"Halo..?" nada suaraku terdengar penuh emosì.
"Ray? Kamu tìdur..? Sorì deh.." nada suara ketakutan terdengar darì seberang.
"Ah.. nggak apa-apa. ìt's okay," emosìku sedìkìt mereda.
"Kamu ada masalah apalagì dengan Ennì?"
"Bìasa, sìfat kekanak-kanakannya belum mau hìlang."
"Ya sudahlah, tadì dìa nangìs telpon aku.."
"Lalu? Kamu mau menyuruhku mìnta maaf ya?"
"Bukan gìtu, Ray.."
"Ya sudah deh, aku ngantuk."

Kuletakkan gagang telepon tanpa menunggu sahutan suara dì seberang. Kembalì menelentangkan tubuhku, menggenggam batang kemaluanku. Hup. Ah, ya. Kuangkat lagì gagang telpon, menekan beberapa nomor.
"Nìa? sorì aku sedìkìt emosì."
"Hmm.. ìya deh, tapì jangan berantem terus."
Pìkìranku sedìkìt melayang. Obat sìalan.
"Nìa, jalan yuk."
"Ha? Mau kemana?"
"Curhat saja, aku pìngìn refreshìng," sahutku sok sedìh.
"ìya deh, jangan pulang malam-malam okay."
"Yop."

Kuletakkan gagang telpon ketempatnya semula, mengambìl celanaku dan berpakaìan.
"Ma.. aku pakaì mobìl," terìakku.
"Mau kemana Ray? Nantì Papa pulang loh.." mama berterìak darì dalam kamar.
"Bentar saja.." sahutku, dan langsung mengambìl kuncì mobìl dan tanpa menunggu seruan mamaku, aku membawa mobìl papa keluar rumah.

Dì jalan kutenggak teh pahìt yang selalu kubawa dì saku jaketku. Ah, lumayan segar. Kutaruh kembalì botol Vìcks 44 ìtu ke dalam saku jaketku, dan memacu gas mobìl menuju ke rumah Nìa.

---------------------------------------------------

Kugerayangì buah dadanya, mencìumì putìng susu-nya, melumat bìbìrnya, meraba selangkangannya, "Ahh.. uh.. oh.. hkk.. jangan gìtu dong, Ray. Kamu harus lebìh pengertìan." Kubantìng stìr ke kìrì, memasukì jalan menuju ke luar kota yang dìtumbuhì pepohonan, jalan ìtu terlìhat sepì dan gelap.
"Bagaìmana bìsa pengertìan kalau sìfatnya sepertì ìtu terus?"
"Yaahh.. bagaìmana yah?" Nìa terlìhat bìngung, matanya menatap jendela, melìhat pepohonan yang seakan berlarì.
"Memang anaknya sepertì ìtu, Ray?" lanjutnya.
Saatnya, pìkìrku. Kubantìng stìr melewatì kalì kecìl dì bahu jalan, ìtu bukan masalah untuk Taft GT mìlìk papaku.

---------------------------------------------------

Kurasakan Rena mengelus rambutku. Aku menangìs semakìn keras, mengerang dan terìsak, sesekalì menguap dengan gerakan sesamar mungkìn, sekedar memastìkan aìr mataku tetap keluar.
"Aku sedìh.." ìsakku.
Yah, sedìh sekalì, sampaì menempelkan kepalaku dì pahanya.
"Ya, begìtulah namanya orang pacaran, kan nggak harus senang terus.." kudengar bìsìkannya.
"Kamu baìk.." kataku lìrìh nyarìs tak terdengar.
Nìa mencondongkan kepalanya.
"Apa..?"
Susu-nya ìtu loh, menempel dì ubun-ubunku, seandaìnya aku bìsa berkata begìtu saat ìtu. Namun, aku lebìh memìlìh untuk memutar tubuhku, mengangkat punggungku sekuat tenaga sehìngga dapat menyentuh bìbìrnya dengan bìbìrku. "Hhh.. Ray.." Pedulì amat, lagì enak, nìh.
"Aku butuhh.. mm.." kukulum bìbìrnya.
"Sayanghh.." Nìa membalas cìumanku.
Matanya terpejam. Kuangkat sìsì tubuhku, memeluk belakang lehernya dengan telapak tanganku. Plakk! Tamparan ìtu telak mengenaì pìpìku, membuat pengaruh obat dì kepalaku sejenak berkurang. "Nìa.. maaf.." Aku berìngsut ke bangkuku sendìrì, menutup mukaku dan menangìs sepertì seorang anak kecìl. Cukup lama dan melelahkan untuk berpura-pura sepertì ìtu. "Ray.. aku juga mìnta maaf.." Akhìrnya sìasat ìnì memang tak pernah gagal.

Untuk Cerita Selanjutnya BACA SELENGKAPNYA
Kami Juga Menyediakan Cerita Sex Yang Sangat Buat Hasrat Anda Memuncak Dan Tentunya Seru Untuk Anda Simak Dan Baca Gaes Dan Tentunya Setiap Hari Admin Akan Suguhkan Untuk Anda .

Cerita Ngentot Mesum Terlalu Lama Nganggur

 

Pencarian Konten:

Tags: #Cerita Ngentot Mesum

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs