Cerita Panas Nafsu Yang Tak Terbendung

1177 views

cerita-panas-nafsu-yang-tak-terbendungCerita Panas textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung, Cerita Mesum textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung, Cerita textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung,Cerita Dewasa textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung Terbaru. Cerita Sex textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung,Cerita Hot textovirtual.net Nafsu Yang Tak Terbendung.

Cerita Panas Nafsu Yang Tak Terbendung

Aku sedang menöntön televisi di kamarku ketika vivi keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur. Hm.. dia pasti habis cuci muka dan bersih-bersih sebelum tidur. Di kamar tidur kami memang terdapat kamar mandi dan televisi, sehingga aku menöntön televisi sambil tiduran. vivi berbaring di sampingku, dan memejamkan matanya. Lhö? Dia langsung mau tidur nih! Padahal aku sejak tadi menunggu dia. Lihat saja, si “ujang” sudah bangun menantikan jatahnya

“vivi! Kök langsung tidur sih?”
“Mm..?”
vivi membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Wööw… burungku semakin mengeras. vivi mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. vivi mencium pipiku. “Cupp..!”

“Tidur yang nyenyak yaa…” katanya perlahan.
Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lhö? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengöng beberapa saat.
“vivi! vivi..!” aku mengguncang-guncang tubuhnya.
“Umm… udah maleem… vivi ngantuk niih…”
Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si “ujang” masih tegang dan penasaran minta jatah.

Begitulah vivi. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat, sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat “hemat”. Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan vivi, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks. Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami belum punya anak. Untuk pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. vivi bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja vivi untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk vivi. Siapa tahu dalam mimpi, vivi mau memuaskanku? Hehehe…

Esöknya saat jam istirahat kantör, aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka, disana aku bertemu dengan Ami, sahabatku dan vivi semasa kuliah dahulu. Kulihat Ami bersama dengan seörang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Ami tidak punya adik. Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Ami. citra namanya. Heran juga aku, kök saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya kami makan satu meja.

Sambil makan, kami mengöbröl. Ternyata citra seperti juga Ami, tipe yang mudah akrab dengan örang baru. Terbukti dia tidak canggung mengöbröl denganku. Ketika aku menanyakan tentang Jöe (suami Ami, sahabatku semasa kuliah), Ami bilang bahwa Jöe sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

“Paling juga disana dia main cewek!” begitu kömentar Ami.
Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Jöe, dan bukan hal yang aneh kalau Jöe ada main dengan wanita lain disana. Saat citra permisi untuk ke töilet, Ami langsung bertanya padaku.
“hervan, löe ama vivi gimana?”
“Baek. Kenapa?”
“Dari dulu löe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kök bisa ya akur ama vivi?”Aku diam saja.

[nextpage title="2 Cerita Panas Nafsu Yang Tak Terbendung"]

Aku dan vivi memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti setiap hari aku minta jatah dari vivi. Tapi kalau vivi dituruti, paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah vivi. Jelas saja aku selingkuh! Mana tahan?

“Kök diem, hervan?” pertanyaan Ami membuyarkan lamunanku.
“Nggak kök…”
“Löe lagi punya masalah ya?”
“Nggaak…”
“Jujur aja deh…” Ami mendesak.
Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Jöe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.

“Cerita dööng..!” Ami kembali mendesak.
“Mi.., löe mau pesta “assöy” lagi nggak?” aku memulai. Ami kelihatan kaget.
“Eh? Löe jangan macem-macem ya hervan!” kecam Ami.
Aduh.., kelihatannya dia marah.
“Sörry! Sörry! Gue nggak serius… sörry yaa…” aku sedikit panik.

Tiba-tiba Ami tertawa kecil.
“Keliatannya löe emang punya masalah deh… öke, nanti söre kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.”
Saat itu citra kembali dari töilet. Kami melanjutkan mengöbröl sebentar, setelah itu aku kembali ke kantör.

Jam 5 söre aku pulang kantör, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit aku menunggu sebelum akhirnya telepön genggamku berdering. Dari Ami, menanyakan dimana aku berada. Setelah bertemu, Ami langsung mengajakku naik ke möbilnya. Möbilku kutinggalkan disana. Di jalan Ami langsung menanyaiku tanpa basa-basi.
“hervan, löe lagi butuh seks ya?”
Aku kaget juga ditanya seperti itu. “Maksud löe?”
“Löe nggak usah malu ama gue. Emangnya vivi kenapa?”
Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.

“Mi… vivi itu susah banget… dia bener-bener pelit kalö söal begitu. Löe bayangin aja, gue selalu nafsu kalö ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespön. Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran döng! Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.”
Ami tertawa. “Maksudnya löe perkösa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkösa sih?”
“Dia nggak marah kök. Lagi gue perkösanya nggak kasar.”
“Mana ada perkösa nggak kasar?” Ami tertawa lagi. “Dan kalö dia nggak marah, perkösa aja dia tiap hari.”
“Kasian juga kalö diperkösa tiap hari. Gue nggak tega kalö begitu…”
“Jadi kalö sekali-sekali tega ya?”
“Yah… namanya juga kepepet… Udah deh… nggak usah ngömöngin vivi lagi ya?”
“öke… kita juga hampir sampe nih…”

[nextpage title="3 Cerita Panas Nafsu Yang Tak Terbendung"]

Aku heran. Ternyata Ami menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi aku tidak menyadarinya.
“Mi, apartemen siapa nih?”
“Apartemennya citra. Pököknya kita masuk dulu deh…”

citra menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara citra dan Ami masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Ami memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan ketika aku masuk, si “ujang” langsung terbangun, sebab kulihat Ami dan citra tidak memakai pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip sedang bertelanjang bulat di depanku. Mimpi apa aku?

“Kök bengöng hervan? Katanya löe lagi butuh? Ayö sini..!” panggil Ami lembut.
Aku menurut bagai dihipnötis. citra duduk bersimpuh di ranjang.
“Ayö berbaring disini, Mas herhervan.”
Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha citra. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara citra yang menggantung mempesöna. Ukurannya lumayan juga. citra langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergölak.

“Gue pijat dulu yaa…” kata Ami.
Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang möntök itu. öhh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.
“Enak kan, hervan?” Ami bertanya.
Aku mengangguk. “Enak banget. Lembut…”

citra meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam payudaranya. Dia membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di depan wajahku.
“hervan, perah susu gue ya?” pintanya nakal.
Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga citra merintih-rintih.
“Ahh… aww… akh… terus.. hervan… ahh… ahhh…”
Payudara citra terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”.

“Dulu diwaktu pesta di rumah gue, köntöl löe belum ngerasain lidah gue ya?” kata Ami, dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “ujang” tepat di bagian bawah lubangnya.
Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “ujang” telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedöt dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedötan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedöt-nyedöt ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.

“Mi… gue… udah mau.. ke.. luar…”
Ami semakin intens mengulum dan menyedöt, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprötkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara citra pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedöt kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

[nextpage title="4 Cerita Panas Nafsu Yang Tak Terbendung"]

“Aahh… Ami… udahan dulu döng..!”
“Kök cepet banget keluar?” ledeknya.
“Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum döng, selama ini ditahan terus.” aku membela diri.
“öke deh, kita istirahat sebentar.”

Ami lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. citra mengambil pösisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Ami hingga akhirnya aku menemukan daging kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Ami mendesah perlahan. Kugunakan jari jempöl dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengörek liang sanggamanya. Desahan Ami semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu citra terus saja menjilati kemaluanku. Tidak hanya itu, citra mengösök-gösök mulut dan leher si “ujang”, sehingga sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat.

Kali ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik pösisi tubuhku, menindih Ami yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusödök lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Ami mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Ami. Aku mulai mengöcök maju mundur. Ami melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. citra yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Ami mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai örgasme.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Ami, dan langsung kuraih tubuh citra. Untuk mengistirahatkan si “ujang”, aku menggunakan jari-jariku untuk mengöbök-öbök vagina citra. Kugösök-gösök klitörisnya sehingga citra mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur payudaranya, kanan dan kiri. citra meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang citra, aku bersedia untuk main cöurse.

citra nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil döggy style. Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti. citra merintih-rintih keras saat pröses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang diberikan öleh jepitan vagina citra. Hangat sekali, lebih hangat dari milik Ami. Setelah itu kumulai menyödök citra maju mundur.

citra memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang. Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan kami. Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan langsung kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga södökanku semakin kupercepat, membuat citra semakin keras mengeluarkan suara.
“Aaahh… Aaahh… Gue keluaar… Aaah..” teriak citra dengan lantang.

citra terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.
“Fit… gue mau keluar nih…”
citra langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut citra, yang ditelan öleh citra sampai habis.

Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Ami berbaring di sisiku. Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. citra masih membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.
“Gimana hervan? Puas?” Ami bertanya.
“Puas banget deh… ötak gue ringan banget rasanya.”
“Gue mandi dulu ya?” citra memötöng pembicaraan kami.
Lalu ia menuju kamar mandi.

“Gue begini juga karena gue lagi pengen kök. Jöe udah dua minggu pergi. Nggak tau baliknya kapan.” Ami menjelaskan.
“Nggak masalah kök. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.”
“Huss! Sembarangan löe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Jöe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama löe!”
Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
“Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti vivi bingung lhö!”

Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pamit dengan citra, Ami mengantarku kembali ke Citraland. Disana kami berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan möbilku. Di rumah, tentu saja vivi menanyakan darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis makan malam bersama teman.

“Yaa… padahal vivi udah siapin makan malem.” vivi kelihatan kecewa.
Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.
“Ya udah, herhervan makan lagi aja deh… tapi herhervan mau mandi dulu.” kataku sambil mencium dahinya.
vivi kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

Pencarian Konten:

Tags: #bokep oktober 2015 #cerita dewasa oktober 2015 #cerita dewasa terbaru oktober 2015 #cerita hot romantic #cerita ngentot terbaru oktober 2015 #cerita sek gara gara ranjang sempit #cerita seks oktober 2015 #cerita seks terbaru oktober 2015 #cerita sexs hots butuh pelampiasan #cersex terbaru oktober 2015

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs