Ketika Diriku Digilir Para Pria Pecundang | Cerita Dewasa

999 views

Ketika Diriku Digilir Para Pria Pecundang | Cerita Dewasa

  Ketika Diriku Digilir Para Pria Pecundang | Cerita Dewasa andcause.org situs terbaik dan terpecaya dalam semua situs Bokep Hot diseluruh pelosok negeri. selamat Ketika Diriku Digilir Para Pria Pecundang nikmati Hot dibawah ini: Cerita Dewasa - Dengan naík taksí aku menuju ke Club Deluxe, seorang GM telah menunggu dí depan lobby saat taxíku berhentí. "Cepat mereka udah lama menunggu" sapanya sambíl menggandengku menuju salah satu ruangan VíP. Ada 5 orang berada dí dalam, anehnya tídak ada seorangpu Purel yang menemaní mereka. "íní día bídadarí kíta" celetuk salah seorang darí mereka saat melíhatku memasukí ruangan "Wow sayang sekalí aku tak bísa íkutan" sahut laínnya "Aku setuju" teríak laínnya tanpa aku tahu apa maksudnya "Setujuu" yang laín mengekor sepertí suara dí gedung DPR. "Oke semua telah setuju jadí kamu bísa tínggal dan temaní mereka" kata sí GM, aku masíh tak tahu maksudnya, jadí kuturutí saja sepertí kerbau dícocok hídungnya. Satu persatu aku díperkenalkan, tentu saja tak semua nama bísa kuíngat satu persatu tapí untuk saat íní apalah artí sebuah nama, toh aku belum tahu apa maunya mereka. GM ítu hanya memberítahu bahwa aku dí-bookíng selama 3 malam, mulaí kamís-Sabtu, hanya malam sampaí pagí dítambah Mínggu síang-sore, akan ada permaínan, hanya ítulah pesannya, justru ítu yang membuat aku penasaran. Mereka salíng berceloteh, salíng mengolok temannya. Beberapa lagu telah mereka lantunkan dengan suara yang tak terlalu sedap dídengar telínga, satu demí satu mereka mengajakku dance, bergílíran kulayaní mereka melantaí dííríngí lagu slow yang tak karuan íramanya. Bísa dítebak bagaímana mereka melantaí denganku, semua hampír sama kelakuannya, memelukku erat sehíngga buah dadaku menempel dí tubuhnya, mencíum pípí dan leherku, meremas pantatku dan sebagaínya, semua kulayaní dengan senyuman manja karena aku masíh tídak tahu síapa yang akan menídurí dan meníkmatí tubuhku kelak, jadí semua kuperlakukan sama. Malam semakín larut, masíh juga belum ada tanda tanda acara íní berakhír dan aku belum mendapat kepastían síapa yang harus tídur denganku malam íní díantara mereka. Akhírnya Pak Ade yang palíng muda memberítahu aturan permaínannya, mereka adalah anggota klub golf darí Jakarta yang besok ada turnamen dí Fínna, Bukít Darmo Golf dan Cíputra. Darí keempat orang yang ada dí ruangan íní, síapa yang mendapat score best net dí harí ítu berhak mendapat píala bergílír semalam, yaítu aku, begítu juga dí harí selanjutnya sampaí harí mínggu. "Nggak ada masalah kan?" tanya Pak Ade menutup penjelasannya. Aku díam terkejut tak tahu bagaímana harus bersíkap, seharusnya sí GM ítu memberítahu permaínan íní terlebíh dahulu, apalagí melíbatkan banyak orang sepertí íní. Kalau aku menolak tentu akan mengecewakan banyak orang, kalau aku teríma, sebenarnya tídak ada masalah cuma agak tersínggung dengan sí GM karena mengaturku seenak kemauannya sendírí. "Kalau kamu keberatan ya nggak apa apa, kíta carí yang laín, nggak masalah kok" lanjut Pak Ade melíhat díamku. "Eh enggak, nggak apa kok, aku síh oke oke saja" jawabku "OK gentlemen, kíta akhírí acara íní karena besok tee off jam 6.30 pagí, jadí tídak ada alasan kurang tídur kalau kalah" kata Pak Ade pada rekan rekannya "Dan Líly menjadí mílík sang juara besok malam híngga pagí, terserah mau díapaín" lanjutnya dan díjawab "setujuu" serentak seraya berdírí dan menínggalkan kamar VíP ítu. Pukul 11 kamí semua menínggalkan Club Deluxe, meskípun malam íní tak ada yang kulayaní tapí argo sudah jalan, ítulah kesepakatannya. "Besok jam 7 malam kamu sudah síap dí Hotel Mercure (sekarang Sommerset kalau nggak salah)" pesan sí GM sebelum taxíku berangkat mengantarku pulang. Harí Pertama Keesokan harínya berjalan sepertí bíasa, aku tak terlalu memíkírkan síapa yang akan meníduríku malam íní, toh percuma saja berharap karena bagíku mereka sepertí tamuku laínnya. Síangnya aku masíh meneríma tamu, bahkan dua, beruntunglah tamuku yang kedua tínggal dí Hotel Mercure, jadí darí pada mondar mandír, día kuberí "bonus" free extra tíme sambíl menunggu jam 7 malam, tentu saja día tídak keberatan mendapat bonus ítu meskípun tídak tahu alasannya, Palíng tídak bísa mendapatkan satu babak tambahan setelah 2 babak kamí bercínta. Jam 18:40 kutínggalkan tamuku menuju lobby, aku tak beraní menunggu dí lobby, dísampíng memang bukan kebíasaanku juga karena khawatír ketahuan tamu terakhírku tadí, maka kutunggu panggílan mereka dí mobíl. Belum habís Marlboro putíhku, sí GM menelpon dan memíntaku langsung memíntaku bergabung dengan mereka dí restoran hotel ítu, begítu tahu aku udah berada dí tempat parkír. Ternyata mereka sudah lengkap mengelílíngí makanan yang sudah terhídang dí atas meja. Suara celotehan terdengar saat aku bergabung dengan mereka. Untunglah tak banyak tamu dí restoran ítu, jadí aku tak perlu terlalu khawatír díkenalí orang yang pernah mem-bookíngku, hanya tamuku terakhír tadí yang kukhawatírkan. Selama makan, pembícaraan mereka hanyalah seputar permaínan golf tadí síang, banyak ístílah yang tak kumengertí, sepertí bírdíe, par, boogy, green, rough, best net, gross, handycap dan ístílah laín yang sama sekalí asíng bagíku. Híngga selesaí makan aku masíh tídak tahu síapa yang akan meníduríku pertama kalí, tapí aku tak pedulí síapapun yang akan tídur denganku karena aku tídak dalam posísí untuk memílíh. Kucoba menerka síapa lakí lakí yang "beruntung" ítu, tapí terlalu sulít karena antara pemenang dan pecundang semua berwajah cería, tak ada kesedíhan tampak dí raut muka mereka. Akhírnya Pak Bambang berdírí dan mengulurkan tangannya padaku. "Sorry guys, aku permísí dulu, í have many thíng to do" katanya sambíl menggandeng tanganku menínggalkan rekan rekannya dííríngí celoteh godaan, ternyata díalah pemenang dí harí pertama. Bergandengan tangan kamí menuju kamar Pak Bambang, día bukan yang palíng tua díantara rekan rekannya tadí tapí termasuk yang dí-tua-kan karena usíanya memang díatas 50-an, kutaksír sekítar 55 tahun, hampír 2 kalí usíaku. Tak ada yang ístímewa pada dírí Pak Bambang, kulítnya yang kehítaman karena terbakar mataharí akíbat seríng maín golf, kumísnya yang tebal dengan beberapa uban menghíasí kepalanya. Sesampaí dí kamar tanpa banyak basa basí día langsung mendekapku darí belakang dan mencíumí tengkukku. Aku menggelíat gelí, tangannya sudah berada dí dada dengan remasan remasan nakal. "Bapak nakal deh, síní aku lepasín ." Belum selesaí aku bícara día langsung menutup mulutku dengan bíbírnya dan melumat habís, lídahnya berusaha menembus rongga mulutku, segera kusambut pula dengan lídahku. Kamí bercíuman sambíl salíng melucutí pakaían híngga telanjang habís, sepertí sudah tídak sabar untuk segera meníkmatí tubuhku. "Sejak kemarín aku sudah íngín melakukan íní" katanya sambíl merebahkanku ke ranjang "Kenapa nggak bílang darí kemarín, kan aku bísa menyelínap kemarí" jawabku sambíl tersengal mendapat kuluman darínya "Nggak boleh, ítu sudah aturan, bísa bísa aku dípecat kalo ketahuan" lanjutnya terus mendaratkan bíbírnya dí putíngku. Tubuhnya yang agak gendut meníndíhku sambíl mencíumí seluruh tubuhku sejauh día bísa menjangkau dengan bíbírnya. Terasa agak berat aku menahan tubuhnya dan semakín berat saat dadanya menggenjet dadaku, sesak napas díbuatnya. Tapí rupanya día salah menterjemahkan sengalan napasku, díkíra aku sudah benar benar terangsang oleh foreplaynya padahal pemanasannya jauh darí cukup bagíku untuk terangsang. "Gímana? Udah nggak tahan? Kíta masukín aja ya" bísíknya lembut sok gentleman. Aku hanya tersenyum, kubuka kakíku lebar saat día mulaí mengusapkan kejantanannya dí líang vagínaku, agak susah, mungkín karena vagínaku belum basah. "Síní aku basahín dulu" kataku sambíl memberí ísyarat supaya día bergeser ke arah kepalaku dan bísa kukulum penísnya, segera tubuhnya mengangkang dí atas, kusambut dengan jílatan dan kuluman pada kejantanannya. Beberapa saat aku mengulumnya, kemudían bergantí ke posísí 69, salíng menjílat dan mengulum, membuat vagínaku basah dengan cepat. Sudah menjadí kodratku, sebencí dan semuak apapun aku sama seseorang tapí kalau día berhasíl menjílatí vagínaku, apalagí ternyata begítu píntar, maka dengan sedíkít berímajínasí pastílah caíran kewanítaanku keluar dengan sendírínya. Perlahan lahan Pak Bambang mendorong kejantanannya memasukí líang keníkmatanku, penís ketíga dí harí ítu yang meníkmatí hangatnya surga dunía mílíkku. Día menatapku tajam dengan sorot mata penuh nafsu seakan íngín menelanku bulat bulat, senyumnya menyeríngaí bak srígala lapar menatap korban yang sudah tídak berdaya dalam cengkeramannya. Día menelungkupkan tubuhnya dí atasku, memelukku rapat sambíl mencíumí leher dan bíbírku seíríng dengan mulaínya gerakan mengocok penísnya. Kocokan pelan dan dalam membuat bulu kudukku meríndíng karena gelí bercampur níkmat, aku sendírí heran tak pernah meríndíng begíní saat melayaní tamu, írama permaínan apapun kulayaní baík romantís, pelan maupun keras menjurus líar sejauh tídak menyakítí secara físík, kalau secara mental síh sudah terlatíh untuk menerímanya segala jenís "penghínaan dan perendahan martabat" sejauh berhubungan dengan pekerjaanku, dan bukan tentang príbadíku. Desahan Pak Bambang mengíríngí desahan keníkmatanku, hembusan napasnya yang tersengal mengenaí wajahku saat kocokannya mulaí berubah cepat, pantatnya turun naík menekan kuat, klítorísku serasa tergesek benda keras kejantanannya. Sodokan demí sodokan begítu día níkmatí, sebentar saja keríngat sudah membasahí wajahnya, kuusap lembut dengan tanganku, sepertí mengusap wajah Papaku yang sedang berkeríngat, beberapa sempat menetes dí wajahku. Kudorong tubuhnya menjauh karena terasa semakín berat meníndíhku, membuat napasku íkutan tersengal, tapí justru día mencabut penísnya dan telentang dísampíngku, menaríkku ke pelukannya. Mungkín karena lelah menahan berat badannya sendírí, karena stamínanya sudah tak muda lagí, padahal permaínan belum 5 menít tapí terasa begítu lama. Kíní posísíku dí atas, kucíum bíbírnya sembarí menuntun penísnya kembalí memasukí vagínaku, kembalí aku dalam dekapannya saat kocokannya menghunjam tajam, kuatur posísí pantatku híngga kejantanannya menggeser klítorís, dengan posísí begíní akulah yang pegang kendalí. Kulawan dengan goyangan pantat setíap kalí penísnya meluncur masuk, aku melepaskan dírí darí dekapannya, dengan begíní lebíh bebas bergerak melakukan ímprovísasí demí keníkmatan tamu dan sedíkít bagíku. Tubuhku mulaí turun naík dí atasnya, tangan Pak Bambang meremas remas buah dadaku penuh nafsu dííríngí desahan keníkmatan kamí berdua. Kurobah gerakanku, darí turun naík menjadí berputar dí atas penísnya, sesaat kulíhat Pak Bambang merem melek meníkmatí perubahan gerakanku, tangannya makín keras mencengkeram buah dadaku, vagínaku sendírí terasa díaduk aduk penísnya yang tídak terlalu besar, rata rata, tapí sekeras batu. Kupermaínkan dengan otot otot vagína yang memeras kejantanannya, día makín melayang tínggí dan makín cepat mencapaí klímaks. Tubuhku dítarík kembalí dalam dekapannya tapí aku menolak, aku íngín meníkmatí wajah wajah tua dalam keníkmatan sexual tertínggí yang tídak mungkín bísa día dapatkan setíap saat apalagí dí rumah. Beberapa detík kemudían kurasakan semprotan sperma yang kuat menghantam vagínaku, dííríngí jerítan keníkmatan darí Pak Bambang, aku teríak kaget tak menyangka begítu kuat denyutannya, líma enam tujuh delapan denyutan yang hebat melandaku dísusul denyutan kecíl laínnya, mengísí vagínaku dengan caíran hangat sperma. Aku ambruk tak lama kemudían dalam pelukannya, meskípun tídak íkutan orgasme tapí kuatnya semprotan ítu begítu níkmat terasa, napasnya menderu kuat dítelíngaku, sepertí orang yang sehabís larí marathon. "Ugh, lebíh satu mínggu aku tak melakukan íní" katanya pelan sambíl membelaí rambutku setelah día berhasíl mengatur nafasnya normal. "Emang íbu kemana?" tanyaku lancang. "Día lagí ke luar kota, bíasa kegíatan kelompok íbu íbu" jawabnya masíh mengelus elus rambutku. "Wah íbu pastí puas dengan permaínan Bapak sepertí íní, bísa KO día apalagí lídah Bapak pandaí sekalí bermaín dí bawah" aku memují dan semakín beraní bertanya karena belíau juga tídak mengalíhkan perhatían ke pembícaraan laín, berartí tídak keberatan. "Ah enggak, día membencí permaínan oral, tapí masíh hebat dí ranjang, maklum usía kamí cukup jauh, día kan 44 sedangkan aku sudah 56" Pembícaraan kamí berlangsung cukup lama mengenaí keluarganya, terkadang día memují kehebatan ístrínya bahkan menyanjungnya, aku jadí tambah bíngung, darí pembícaraan ítu sebenarnya tak ada alasan untuk selíngkuh mencarí waníta laín tapí tetap saja dílakukannya sebagaí selíngan hídup, masak makan sayur asem terus, ítu alasan klasík yang selalu dí ucapkan lelakí, dasar lakí lakí, dímana saja ternyata sama hanya kemasannya saja yang berbeda. Handphone-nya berbunyí, rupanya día memang sudah menunggu makanya dítaruh HP ítu dí ranjang. Tanpa memíntaku turun darí tubuhnya día teríma telepon ítu. "Ya sayang, enggak lho Mama kan ke Bandung sama íbu íbu sekarang Papa ada dí Surabaya sayang, nggak bísa, kamu bílang saja sama tantemu ntar Papa akan gantí sampaí mínggu íya, senín aja deh, malam sayang" Aku hanya díam saja mendengar pembícaraannya, ternyata darí anak perempuannya yang sedang kulíah dí Yogja, berartí hanya sedíkít lebíh muda daríku. Beberapa saat kamí salíng membísu, penísnya sudah keluar darí vagínaku, kurasakan caíran sperma menetes keluar. Akhírnya aku turun darí tubuhnya, kubersíhkan kejantanannya dengan tísu yang ada dí sampíng ranjang, baunya begítu menyengat, lalu kutínggalkan ke kamar mandí membersíhkan sperma yang ada dí vagínaku. Jam menunjukkan pukul 9:35 malam ketíka aku keluar kamar mandí selesaí mandí, kulíhat Pak Bambang sudah duduk dí sofa sudah mengenakan celana dalamnya, perutnya kelíhatan semakín buncít dengan posísí duduk sepertí ítu. Kubuatkan 2 cangkír teh darí míní bar, kuhídangkan ke depan belíau dan aku langsung duduk dí pangkuannya dengan síkap manja. "Besok maín dímana lagí Pak?" tanyaku sambíl bergelayut dí lehernya. "Bukít Darmo, dekat síní aja, jadí nggak perlu buru buru berangkat jam 5 kayak tadí pagí kalo ke Fínna" "Terus besoknya lagí?" "Ke Cíputra, tapí cuma 18 hole supaya bísa selesaí síang dan sang juara punya waktu untuk meníkmatí hadíahnya sebelum pulang ke Jakarta flíght terakhír" Aku banyak menanyakan ístílah golf yang kudengar tadí, dan dengan penuh kesabaran día menerangkan aturan aturan dasar permaínan golf, termasuk artí ístílah ítu dan cara penílaíannya díselíngí cíuman ríngan pada leher dan dadaku. Sebagían kupahamí tapí tídak sedíkít yang terlupakan, maklum begítu banyak pelajaran yang kuteríma dalam waktu síngkat, dítambah lagí tangan Pak Bambang yang selalu rajín menjamah tubuhku sambíl menerangkan tadí. Tubuhku sudah merosot dí antara kakínya setelah día selesaí menjelaskan tentang golf, handuk penutupku telah lama melayang ke ranjang, gílíran aku membuktíkan one ín hole pada permaínan laín, bukan hole ín one. Pak Bambang melíhat sambíl mendesís ketíka penísnya meluncur keluar masuk mulutku sembarí mengelus mesra rambutku. "Udah udah, ntar aku kebablasan" katanya lalu berdírí menuntunku ke ranjang.

Ketika Diriku Digilir Para Pria Pecundang | Cerita Dewasa

Pencarian Konten:

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs