Puas Dengan Pelayanann Ajie Cerita Dewasa Mesum

693 views

Puas Dengan Pelayanann Ajie Cerita Dewasa Mesum

cerita ngentot Puas Dengan Pelayanann Ajie,cerita sex ngentot Puas Dengan Pelayanann Ajie,berikut adalah Cerita Dewasa Mesum Puas Dengan Pelayanann Ajie, yang andcause.org bagikan simak cerita hot sex Puas Dengan Pelayanann Ajie dibawah

puas-dengan-pelayanann-ajie-cerita-dewasa-mesumCerita Dewasa Mesum - Aku seorang wanìta karìr yang cukup mapan, boleh dìbìlang karìrku sudah mencapaì tìngkat tertìnggì darì yang pernah kuìmpìkan. Tahun lalu aku mengambil ketetapan keluar darì pekerjaanku yang amat baìk ìtu, aku ìngìn memperbaìkì rumah tanggaku yang berantakan gara-gara selama 5 tahun ìnì aku dan suamì tìdak pernah berkomunìkasì baìk sehìngga kamì masìng-masìng memìlìkì kegìatan dì luar rumah sendìrì-sendìrì. Anak kamì cuma satu sekolah dì luar negerì, peluang untuk berkomunìkasì makìn sedìkìt sampaì akhìrnya kuputuskan untuk memulaì lagì jalinan suamìku darì bawah. Tapì apa boleh buat seluruh justru berantakan, suamìku memìlìh ceraì ketìka aku sudah keluar darì karìrku selama 3 bulan. Aku tak dapat menuding kesalahannya gara-gara akupun tìdak begìtu antusìas lagì sesudah mengetahuì dìa mempunyaì wanìta sìmpanan, dan ìtu juga bukan salahnya maupun salahku. Kupìkìr ìtu ialah takdìr yang harus kujalanì.

Sekarang usìaku sudah 39 tahun dan aku tìdak pernah bermìmpì untuk menìkah lagì, seharì-harì aku lebìh banyak berjalan-jalan kawan, kadang-kadang-kadamg kamì travelìng untuk membunuh waktu belaka. Sejak 3 bulan yang lalu aku membìarkan salah seorang keponakanku untuk tìnggal dì rumahku, aku tergerak menolong orang tuanya yang mempunyaì ekonomì pas-pasan sehìngga untuk kost tentu membutuhkan bìaya yang mahal, namun untuk bayar kulìah saja mereka sudah bekerja matì-matìan. Keponakanku mempunyai nama Ajìe, usìanya sekìtar 22 tahun, kubìarkan ìa tìnggal dì salah satu kamar dì lantaì 2. Ajìe amat sopan dan tahu dìrì, jadì kupìkìr amat berguna ada seseorang yang bisa menjaga rumahku manakala aku dan kawan-kawan travelìng. Tapì terbukti Ajìe membawa berkah yang laìn.

Pagì ìtu aku segan sekalì bangun darì ranjang, baru kemarìn malam aku kembalì darì Thaìland dan nasib baik harì ìtu ialah harì mìnggu, sehìngga aku mengambil ketetapan akan tìdur sepuas mungkìn, seluruh pembatu lìbur pada harì mìnggu, mereka boleh kemana saja, aku tìdak pedulì asal jangan membuat ganguan tìdurku. Aku tergolek saja dì ranjang, baju tìdurku terbuat darì sutera tìpìs mempunyai warna putìh, kupandangì tubuhku yang mulaì gempal, kupìkìr aku harus mulaì senam lagì. Kulìhat jam tunjukkan angka 10. Ah bìarlah aku ìngìn tìdur lagì, jadì aku mulaì terkantuk-kantuk lagì. Tìba-tìba aku mendengar nada/suara langkah kakì dì depan pìntu, lalu terdengar ketukan, aku dìam saja, mungkìn salah seorang pembantu ìngìn mengacau tìdurku.
"Tante.., Tante..", ooh terbukti nada/suara Ajìe. Mau apa dìa? Aku masìh dìam tak memberikan jawaban, kubalìkkan badanku sehìngga aku tìdur telentang, kupejamkan mataku, ke-2 tangan kumasukkan ke bawah bantal. Ketukan dì pìntu berulang lagì dìsertaì panggìlan.
"Persetan!", pìkìrku sambìl terus memejamkan mata. Tak lama kemudìan aku kaget sendìrì mendengar pegangan pìntu dìputar, kulìrìk sedìkìt melaluì sudut mataku, kulìhat pìntu bergerak membongkar pelan, lalu nampak kepala Ajìe memandang ke arahku, aku pura-pura tìdur, aku tak mau dìganggu.
"Tante..?", nada/suaranya berbìsìk, aku dìam saja. Kupejamkan mataku makìn erat.

Beberapa waktu aku tìdak mendengar serta apa pun, tapì tìba-tìba aku tercekat ketìka merasakan sesuatu dì pahaku. Kuìntìp melaluì sudut mata, astaga terbukti Ajìe sudah berdìrì dì sampìng ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagìan bawah gaun tìdurku, aku lupa sedang mengenakan baju tìdur yang tìpìs apalagì tìdur telentang pula. Hatìku jadì melakukan debaran, kulìhat Ajìe meneguk ludah, pelan-pelan tangannya menyìngkap gaunku, hatìku makìn berdebar tak karuan. Mau apa dìa? Tapì aku terus pura-pura tìdur.
"Tante..", nada/suara Ajìe terdengar keras, kupìkìr ìa sedang ìngìn memastìkan apakah tìdurku betul-betul nyenyak atau tìdak. Kuputuskan untuk terus pura-pura tìdur. Kemudìan kurasakan gaun tìdurku tersìngkap seluruh sampaì leher, lalu kurasakan tangan Ajìe mengelus bìbìrku, jantungku sepertì melompat, aku mencari jalan tenang agar pemuda ìtu tìdak curìga.

Kurasakan lagì tangan ìtu mengelus-elus ketìakku, gara-gara tangan kumasukkan bawah bantal jadì otomatìs ketìakku terlìhat. Kuìntìp lagì.., buseet muka pemuda ìtu dekat sekalì mukaku, tapì aku yakìn dìa masìh tidak mengetahuinya aku pura-pura tìdur, kuatur napas selembut mungkìn. Lalu kurasakan tangannya menelusurì leherku, bulu kudukku meremang gelì, aku mencari jalan bertahan, aku ìngìn tahu apa yang akan dìlakukannya kepada tubuhku. Tak lama kemudìan kurasakan tangannya meraba buah dadaku yang masìh tertutup BH, mula-mula ìa cuma mengelus-elus, aku tetap dìam sambìl menìkmatì elusannya, lalu kurasakan buah dadaku mulaì dìremas-remas, aku merasakan sepertì ada yg sedang bergolak dì dalam tubuhku, sudah lama aku tìdak merasakan sentuhan lakì-lakì. Sekarang aku amat merìndukan kekasaran seorang prìa, aku mengambil ketetapan terus dìam sampaì waktunya tìba.

Sekarang tangan Ajìe sedang berusaha, membongkar kancìng BH-ku darì depan, tak lama kemudìan kurasakan tangan dìngìn pemuda ìtu meremas dan memìlìn putìng susuku. Aku ìngìn merìntìh nìkmat tapì nantì justru menjadikannya takut, jadì kurasakan remasannya dalam dìam. Kurasakan tangannya gemetar ketìka memencet putìng susuku, kulìrìk pelan, kulìhat Ajìe mendekatkan mukanya kearah buah dadaku, lalu ìa menjìlat-jìlat putìng susuku, tubuhku ìngìn menggelìat merasakan kenìkmatan ìsapannya, aku terus bertahan. Kulìrìk putìng susuku yang mempunyai warna merah tua sudah berkìlat oleh aìr lìurnya, perasaanku campur aduk tìdak karuan, nìkmat sekalì. Mulutnya terus menyedot putìng susuku dìsertaì gìgìtan-gìgìtan kecìl, tangan kanan Ajìe mulaì menelusurì selangkanganku, lalu kurasakan jarìnya meraba vagìnaku yg masìh tertutup CD, aku tak tahu apakah vagìnaku sudah basah atau belum, yang jelas jarì-jarì Ajìe menghimpit-nekan lubang vagìnaku darì luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk didalam CD-ku, jantungku berdebar keras sekalì, kurasakan kenìkmatan menjalarì tubuhku. Jarì-jarì Ajìe sedang berusaha, memasukì lubang vagìnaku, lalu kurasakan jarìnya amblas masuk didalam, wah nìkmat sekalì. Aku harus mengakhìrì sandìwaraku, aku sudah tak tahan lagì, kubuka mataku sambìl menyentakkan tubuhku.

"Ajìe!! Ngapaìn kamu?", Aku berusaha, bangun duduk, tapì ke-2 tangan Ajìe menghimpit pundakku keras. Tìba-tìba Ajìe mencìum mulutku secepat kìlat, aku berusaha, memberontak, kukerahkan seluruh tenagaku, tapì Ajìe makìn keras menghimpit pundakku, justru pemuda ìtu sekarang menìndìh tubuhku, aku kesulìtan bernapas dìtekan oleh tubuhnya yang besar. Kurasakan mulutnya kembalì melumat mulutku, lìdahnya masuk didalam mulutku, aku pura-pura menangkis.
"Tante.., maafkan saya. Sudah lama saya ìngìn merasakan ìnì, maafkan saya tante" Ajìe melepaskan cìumannya lalu memandangku melihat mata memìnta.
"Kamu kan bìsa kawan-kawan kamu yang masìh muda. Tante kan sudah tua" tuturku lembut.
"Tapì saya sudah tergìla-gìla tante.., saya akan menyenangkan tante sepuas-puasnya", Jawab Ajìe.
"Ah kamu.., ya sudahlah terserah kamu sajalah", Aku pura-pura menghela napas panjang, sesungguhnya tubuhku sudah tak tahan ìngìn dìjamah olehnya. Kemudìan Ajìe melepaskan gaun tìdurku, sehìngga aku cuma memakaì celana dalam saja. Lalu Ajìe melepaskan pakaìannya, sehìngga aku bìsa melìhat penìsnya yang besar sekalì, penìs ìtu sudah menegang keras. Ajìe mendekat ke arahku.
"Tante dìam saja ya", Kata Ajìe. Aku dìam sambìl berbarìng telentang, kemudìan Ajìe mulaì mencìumì mukaku, telìngaku dìjìlatìnya, aku membuat erangan-erang, kemudìan leherku dìjìlat juga, tatkala tangannya meremas buah dadaku lembut. Tak lama kemudìan Ajìe merenggangkan ke-2 pahaku, lalu kepalanya menyusup ke selangkanganku. vagìnaku yang masìh tertutup CD dìjìlat dan dìhìsap-hìsapnya, aku menggelìat-gelìat menahan rasa nìkmat yang luar bìasa. Lalu Ajìe menarìk CD-ku sampaì copot, ke-2 kakìku dìangkatnya sampaì pìnggulku juga terangkat, sehìngga tubuhku menekuk, kulìhat vagìnaku yang berbulu amat lebat ìtu membidik ke mukaku, punggungku agak sakìt, tapì kutahan, aku ìngìn tahu apa yang akan dìlakukannya. Kemudìan Ajìe mulaì menjìlatì vagìnaku, kulìhat lìdahnya terjulur menyìbak bulu vagìnaku, lalu menyusup ke belahan bìbìr vagìnaku, aku merìntìh keras, nìkmat sekalì, clìtorìsku dìhìsap-hìsapnya, kurasakan lìdahnya menjulur masuk didalam lubang vagìnaku, mulutnya sudah bergelìmang lendìrku, aku terangsang sekalì melìhat kelahapan pemuda ìtu menìkmatì vagìnaku, sesungguhnya kupìkìr vagìnaku sudah tìdak menarìk lagì.
"Enak Ajìe? Bau kan?", Bìsìkku sambìl terus melìhatnya melahap lubangku.
"Enak sekalì tante, saya suka sekalì baunya", Jawab Ajìe, aku makìn terangsang. Tak lama aku merasakan puncaknya ketìka Ajìe makìn dalam membuat masuk lìdahnya didalam vagìnaku.
"Ajìee.., aa.., enaakk" Kurasakan tubuhku ngìlu seluruh ketìka mencapaì orgasme, Ajìe terus menyusupkan lìdahnya keluar masuk vagìnaku. Kuremas-remas dan kugaruk-garuk rambut Ajìe. Kemudìan kulìhat Ajìe mulaì menjìlat lubang pantatku, aku kegelìan, tapì Ajìe tìdak pedulì, ìa berusaha, membongkar lubang pantatku, aku mencurahkan tenaga sepertì sedang buang aìr sehìngga kulìhat lìdah Ajìe berhasìl menyusup kesela lubang pantatku, aku mulaì merasakan kenìkmatan bergugus-gugus gelì.
"Terus Jìe.., aduh nìkmat banget, gelì.., teruss.., hh..", Aku membuat erangan-erang, Ajìe terus menikamkan lìdahnya didalam lubang pantatku, kadang-kadang-kadang-kadang jarìnya dìmasukkan didalam lalu dìkeluarkan lagì untuk dìjìlat sambìl memandangku.
"Enak? Jorok kan?".
"Enak tante.., nìkmat kok", Jawab Ajìe, tak lama kemudìan aku kembalì orgasme, aku tahu lendìr vagìnaku sudah membanjìr. Kucoba meraìh penìs Ajìe, tapì sulìt sekalì. Aku merasa kebelet ìngìn pìpìs, tìba-tìba tanpa dapat kutahan aìr kencìngku memancar sedìkìt, aku mencari jalan menahannya.
"Aduh sorry Jìe.., nggak tahan mau pìpìs dulu" Aku ìngìn bangun tapì kulìhat Ajìe langsung menjìlat aìr kencìngku yang mempunyai warna agak kunìng. Gìla! Aku berusaha, menghìndar, tapì ìa justru menyurukkan seluruh mulutnya didalam vagìnaku.
"aa.., jangan Ajìe.., jangan dìjìlat, ìtu kan pìpìs Tante", Aku bangun berjalan ke kamar mandì, kulìhat Ajìe mengìkutìku.
"Tante pìpìs dulu, Ajìe jangan ìkut ah.., malu", Kataku sambìl menutup pìntu kamar mandì, tapì Ajìe menahan dan ìkut masuk.
"Saya ìngìn lìhat Tante".
"Terserah deh".
"Saya ìngìn merasakan aìr pìpìs tante", Aku tersentak.
"Gìla kamu? Masak aìr pìpìs mau..", Belum habìs ucapanku, Ajìe sudah telentang dì atas lantaì kamar mandìku.
"Please tante..", Hatìku berdebar, aku belum pernah merasakan bagaìmana mengencìngì orang, sìapa yang mau? Eh sekarang ada yang memohon untuk dìkencìngì. Akhìrnya kuputuskan untuk mencari jalan.
"Terserah deh.." Jawabku, lalu aku berdìrì dìantara kepalanya, kemudìan pelan-pelan aku jongkok dì atas mukanya, kurasakan vagìnaku menyentuh hìdungnya. Ajìe menghimpit pìnggulku sehìngga hìdungnya amblas didalam vagìnaku, aku tak pedulì, kugosok-gosok vagìnaku dì sana, dan sensasìnya luar bìasa, kemudìan lìdahnya mulaì menjulur lalu menjìlatì lubang pantatku lagì, tatkala aku sudah tìdak tahan.
"Awas.., mau keluar" Ajìe memejamkan matanya. Kuarahkan lubang vagìnaku ke mulutnya, kukuakkan bìbìr vagìnaku supaya aìr kencìngku tìdak memencar, kulìhat Ajìe mengulurkan lìdahnya menjìlatì bìbìr vagìnaku, lalu memancarlah aìr kencìngku amat deras, semuanya masuk didalam mulut Ajìe, sebagìan besar keluar lagì.

Untuk Cerita Selanjutnya Baca Selengkapnya
Kami Juga Menyediakan Cerita Sex Yang Sangat Buat Hasrat Anda Memuncak Dan Tentunya Seru Untuk Anda Simak Dan Baca Gaes Dan Tentunya Setiap Hari Admin Akan Suguhkan Untuk Anda .

Puas Dengan Pelayanann Ajie Cerita Dewasa Mesum

 

Tags: #Cerita Dewasa Mesum

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs