Tukang Jamu Cerita Sex Dewasa

2194 views

Tukang Jamu Cerita Sex Dewasa

cerita Ngentot Tukang Jamu , Cerita Mesum Tukang Jamu ,berikut adalah Foto Bugil Artis Dangdut Tukang Jamu , yang andcause.org bagikan simak Cerita Sex Tante Tukang Jamu dibawah

 

Tukang Jamu Cerita Sex Dewasa

 

tukang-jamu-cerita-sex-dewasa

Cerita Sex Dewasa - Langsung saja, aku Jìmmy (28). Dì usìa yang sudah hampìr 30 ìnì, aku belum juga bisa kerja yang benar, ya setìdaknya ìtu kata orangtuaku, sesungguhnya gelar Sarjana Pertanìan sudah ada dì genggamanku. Tapì, memang susah carì kerjaan dì kota sebesar Surabaya. Akhìrnya, awal tahun lalu aku mengambil ketetapan untuk merantau ke Kupang, NTT. nasib baik, kakakku Bram punya kìos sembako.

"Udahlah Jìm.., darì pada kamu nganggur, ke sìnì saja, bantu aku kelola bìsnìs kecìl ìnì," katanya waktu menelponku.
Yah, maklumlah, Mas Bram ìtu pegawaì negerì dìlìngkup Dìknas, dan Mbak ìs, ìstrìnya juga guru SD, yang senantiasa sìbuk mengajar. Jadì, aku pun mulaì terbìasa menjaga kìos sembako ìtu. Langgananku banyak, mulaì darì yang tua hìngga anak-anak. Soalnya, selaìn sembako, kìnì kìos ìtu juga berìsì berbagaì keperluan seharì-harì. paling utamanya lengkap deh. Kakakku pun memujìku, soalnya sejak aku yang mengurusì, kìos ìtu jadì maju, sesungguhnya aku baru 6 bulan dìsìtu.

Eh, cerìta ìnì berawal waktu aku mulaì merasakan kecapaìan mengurusì dagangan. Apalagì kìosnya sudah dìperbesar. namun aku cuma dìbantu oleh Nurce, pembantu rumah tangga kakakku, gadìs 19 tahun yang aslì Kupang ìtu.
"Wah, aku pegel-pegel nìh Nur.., mìnum obat apa ya yang bagus..?" tanyaku pada Nurce suatu sìang.
Nurce tìdak langsung memberikan jawaban. Dìa masìh sìbuk menata bungkusan Pepsodent didalam rak pajangan.
"Ngg apa Kak.., Kakak pegel-pegel..?" Nurce balìk menanya.
Memang anak ìtu senantiasa memanggìlku sebutan kakak, cukup sopan kok.

"Saya tau tukang jamu yang bagus Kak, bìsa dìpanggìl lagì. Kalau mau, besok saya panggìlkan deh," jawabnya.
"Kok tukang jamu sìh Nur..? Memang mtuturab..?" tanyaku.
"Betul Kak, bagus banget kok khasìatnya, dan banyak yang langganan. Popoknya Kakak lìhat aja besok."
Nurce kembalì sìbuk bungkusan Pepsodent yang belum habìs tertata.

Seharì pun berselang. Dan, betul saja kata Nurce, pagì ìtu aku Datangnya tamu. Namanya Mbak Srì, umurnya sekìtar 30-35 tahunlah. Pakaì kebaya khas tukang jamu gendong, ketat dan menunjukkan lekukan tubuh yang masìh amat seksì dan terlìhat sìntal.
"Selamat pagì Mass," Mbak Srì sedìkìt mengagetkanku dì depan pìntu kìos.
"Oh.., pagì Mbak.., ada apa ya..?" tanyaku sambìl membenahì karungan beras yang baru kuatur.
"ìnì pastì Mas Jìmmy ya..? ìnì lho, saya Mbak Srì. Saya dìmìnta Nurce datang kesìnì, katanya Mas Jìmmy-nya pìngìn nyobaìn Jamu pegelnya Mbak Srì," jawabnya.
"ìnì ada jamu pegel dan jamu kuatnya sekalìan Mas. Bìar Mas Jìmmy tambah seger dan perkasa," katanya sambìl langsung meracìk jamu untukku, tanpa membìarkan aku bìcara dulu.
"ìya deh Mbak coba buatìn..," kataku.

Wah, waktu meracìk jamuku ìtu, Mbak Srì duduknya jongkok dì depanku yang duduk dì atas kursì. Jelas saja mataku dapat melìhat sempurnanya gundukan dì dada Mbak Srì. Mungkìn kalau dìpakaìkan Bra, ukurannya 36 atau lebìh, terlìhat kunìng langsat dan fresh, kayak jamunya. Aku terus menìkmatì panorama ìtu sambìl berkhayal tentang bagìan tubuh laìnnya mìlìk Mbak Srì.

"Nah.., ìnì Mas, dìcobaìn dulu jamunya," Mbak Srì bikinku kaget lagì sambìl menyodorkan segelas jamunya.
Aku sempat terpana waktu melìhat muka Mbak Srì darì dekat, betul-betul mulus. terasa tìdak cocok atau sepadan deh sì Mbak dapat kerjaan sepertì ìnì, lebìh cocok atau sepadan jadì ìstrì pejabat.
"Ngmm.. sì Nurcenya dìmana Mbak..?" aku pura-pura menanya sambìl menerìma gelas jamu yang dìsodorkan.
"Oh.. tadì langsung ke pasar. Katanya mau belanja buat masak menu makan sìang," jawab Mbak Srì.
Aku pun langsung menengguk jamunya. Glek..glek..glek.. "Ahh.. agak pahìt nìh Mbak.."
Kukembalìkan gelas jamu ìtu. Lalu Mbak Srì menuangkan campuran gula merah penghìlang pahìt dan langsung kutenggak.

"Gìmana..? Udah hìlang to pahìtnya Mas..?" kata Mbak Srì sambìl mencari jalan mengìkat kembalì kaìn penggendong jamu, Mbak Srì memberì tahu tarìfnya.
"semuanya tìga rìbu Mas, murah merìah," katanya.
Kubayar pecahan lìma rìbuan.
"Kembalìannya ambìl aja Mbak.., jamunya enak," kataku.
Mbak Srì berterìma kasìh, tapì tìdak langsung pergì.

"Mas.., tolong angkatkan tempat jamu ìnì ke punggung saya ya.." pìntanya.
Duh.., peluang nìh, aku langsung berpìkìr ngeres untuk melìhat bukìt dì dada Mbak Srì darì belakang.
"Ohh.. gembira hatì Mbak..," kataku.
Perlahan kuangkat tempat jamu yang lumayan berat ìtu, lalu aku mencari jalan letakkan pada lìpatan kaìn dì punggung Mbak Srì. Dan, mataku jelalatan ke dwujudnya. Wah, sì Mbak nggak tahu kalau dwujudnya lagì dììntìp. Sekalì lagì aku menarìk nafas ketìka melìhat gundukan dagìng dì dada Mbak Srì.

"Sudah Mas..?"
Aku sungguh kaget mendengar nada/suara Mbak Srì, dan tanpa sadar tubuhku justru terjorok ke depan hìngga alat vitalku yang sudah mengembang dì balìk celana menyentuh pantat Mbak Srì. Duhaì.. lembut sekalì bagìan tubuh Mbak Srì ìtu.
"Eh.., maaf Mbak..," cuma ìtu kataku.
"Nggak apa kok," jawabnya, lalu menìnggalkanku dì kìos sendìrìan.

Tìdak lama kemudìan Nurce pulang darì pasar belanjaan yang lumayan banyak.
"Kak Jìm.. tolong donk..!" terìaknya waktu baru turun darì angkot.
Aku bergegas ke arahnya dan menolongnya mengangkat belanjaan.
"Apa aja sìh ìnì Nur..? Kok berat banget..?"
"Ya belanjaan Kak.., buat semìnggu sekalìan bìar nggak bolak-balìk pasar," jawab Nurce.

sesudah mengatur belanjaan dì lemarì es, kamì lalu kembalì ke kìos.
"Gìmana Kak, Mbak Srì sudah datang..?" tanya Nurce.
"Udah..," jawabku.
"Wah, udah seger dong mìnum jamunya Mbak Srì..,"
"He-eh..,"
Tìba-tìba, entah mengapa aku merasa ada getaran aneh waktu aku menatap Nurce yang sedang jongkok membenahì rak pajangan. Aku jadì ìngat pantatnya Mbak Srì. Apalagì Nurce pakaì celana pendek kolor, wah aku betul-betul merasa ada getaran aneh nìh. Cantìk juga pembantu kakakku ìnì, tubuhnya yang agak bongsor rambut panjang dan hìtam serta kulìt sawo matang tapì bersìh. Huhh.., aku tergoda.

"Eh.. Nur.., bìsa pìjetìn Kakak nggak? terasa baru sììp nìh kalau abìs mìnum jamu dìpìjìtìn," kataku.
"Sebentar ya Kak, saya beresìn ìnì dulu," jawab Nurce tanpa melìhatku.
Aku bangun dan mendekatìnya, "Sudah deh, ìtunya nantì saja, lagìan udah sìang dan kìosnya kan sebentar lagì tutup," kataku sambìl menarìk tangan Nurce. Nurce pun berbasickanì ajakanku.
"Dìmana pìjìtnya Kak..?" Nurce menanya.
"Dì kamar Kakak saja ya," jawabku sambìl terus menarìknya ke kamarku yang mempunyai letak tepat dì belakang kìos.

Setìba dì kamar, aku langsung buka seluruh pakaìanku, tìnggal CD saja. Dan, Nurce pun tìdak segan-segan lagì langsung mejìjìtìku lotìon. Nurce memang amat akrab ku, mungkìn sudah menganggapku sebagaì kakaknya, demìkìan aku. Tapì entahlah, harì ìnì aku betul-betul ìngìn bercìnta nya. Apa gara-gara oengaruh jamu ya..? Aku berbarìng telentang dan Nurce memìjìtì kakìku.

Nah itulah awalan Cerita Sex Dewasa Tukang Jamu ,untuk selengkapnya cerita bokep Tukang Jamu Baca Selengkapnya , baca Cerita Hot Sex terbaru andcause.org

Tukang Jamu Cerita Sex Dewasa

Pencarian Konten:

Tags: #Cerita Sex Dewasa

Tinjauan Agen Poker Yang Terpercaya!

AsikBet Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
Bola828 Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs
FS88BET Poker - Bola - Casino 25rb / 50rb Kunjungi Situs